Di sebuah pulau kecil yang bernama pulau Sebatik. Sebuah
pulau yang berbatasan langsung dengan Tawau, Malaysia. Disinilah saya, adik dan
orang tua saya berdomisili. Pengalaman saat saya masih menempuh pendidikan di
sebuah sekolah yang bernama SMAN 1 SEBATIK. Ini adalah SMA paling favorit di
tempat saya. Sebuah sekolah yang hampir
tiap tahun menjadi juara umum dalam setiap lomba OSN Se-kabupaten
Nunukan. Sekolah saya berhasil meraih juara dari perjuangan semua murid yang
tidak kenal kata menyerah. Meskipun begitu, sebenarnya saya dan teman-teman
saya hampir tiap hari belajar hanya menggunakan buku hasil fotokopi. Padahal
sangat jelas tertulis dalam buku tersebut, bahwa dilarang memperbanyak alias
memfotokopi buku tersebut tanpa isin dari penciptanya.
Perbuatan tersebut terpaksa kami lakukan untuk memperlancar proses belajar-mengajar kami di kelas karena daerah tempat tinggal saya ini tidak terdapat toko buku. Untunglah kami masih bisa mengakses internet sehingga kami tidak begitu haus akan imformasi tentang dunia luar. Sebuah kondisi yang sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan siswa-siswi yang ada di Yogyakarta dimana saat ini saya menempuh pendidikan di perguruan tinggi swasta. Di DI.Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar inilah saya bisa membeli buku apapun yang saya suka selama saya masih mampu untuk membelinya.
Ada lagi yang berbeda dari sekolah saya ini, yaitu seragamnya. Seragam sekolah saya ini memiliki ciri khas tersendiri yang membuat saya bangga memakainya. Sebuah bendera merah putih kecil yang berukuran kira-kira 4x6 cm yang terdapat pada bagian dada sebelah kanan seragam saya. Tentu saja ini dapat membagkitkan rasa nasionalisme saya dan teman-teman saya saat memakainya. Yang membedakan Sebatik dengan daerah lain adalah satu Negara dua mata uang, disini kami memakai dua mata uang, mata uang rupiah dan ringgit.
Meskipun ini adalah ciri khas tersendiri tapi, tanpa sadar indonesia sebenarnya telah dijajah oleh Negara tetangga Malaysia. Saya dan teman-teman saya di Sebatik cuma bisa bermimpi dan mewujudkan mimpi tersebut agar suatu saat nanti kami dapat menjadikan Sebatik menjadi daerah yang unggul sebagai salah satu pusat perekonomian terbesar di Indonesia. Sebuah impian mulia yang membuat kami rela meninggalkan kampung halaman kami untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Perbuatan tersebut terpaksa kami lakukan untuk memperlancar proses belajar-mengajar kami di kelas karena daerah tempat tinggal saya ini tidak terdapat toko buku. Untunglah kami masih bisa mengakses internet sehingga kami tidak begitu haus akan imformasi tentang dunia luar. Sebuah kondisi yang sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan siswa-siswi yang ada di Yogyakarta dimana saat ini saya menempuh pendidikan di perguruan tinggi swasta. Di DI.Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar inilah saya bisa membeli buku apapun yang saya suka selama saya masih mampu untuk membelinya.
Ada lagi yang berbeda dari sekolah saya ini, yaitu seragamnya. Seragam sekolah saya ini memiliki ciri khas tersendiri yang membuat saya bangga memakainya. Sebuah bendera merah putih kecil yang berukuran kira-kira 4x6 cm yang terdapat pada bagian dada sebelah kanan seragam saya. Tentu saja ini dapat membagkitkan rasa nasionalisme saya dan teman-teman saya saat memakainya. Yang membedakan Sebatik dengan daerah lain adalah satu Negara dua mata uang, disini kami memakai dua mata uang, mata uang rupiah dan ringgit.
Meskipun ini adalah ciri khas tersendiri tapi, tanpa sadar indonesia sebenarnya telah dijajah oleh Negara tetangga Malaysia. Saya dan teman-teman saya di Sebatik cuma bisa bermimpi dan mewujudkan mimpi tersebut agar suatu saat nanti kami dapat menjadikan Sebatik menjadi daerah yang unggul sebagai salah satu pusat perekonomian terbesar di Indonesia. Sebuah impian mulia yang membuat kami rela meninggalkan kampung halaman kami untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar